Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Wahyu Hidayat, S.Pd., M.Pd.

Artikel Umum

Kemampuan Berpikir Logis Matematik

Dipublikasikan pada : 17 Juli 2014. Kategori : .

Pada dasarnya, kemampuan berpikir logis, adalah kemampuan esensial yang perlu dimiliki oleh dan dikembangkan pada siswa yang belajar matematika. Rasional yang mendukung pernyataan di atas di antaranya karena kemampuan tersebut sesuai dengan visi matematika, tujuan pendidikan nasional, dan tujuan pembelajaran matematika sekolah yang diperlukan untuk menghadapi suasana bersaing yang semakin ketat.

Dalam beberapa pembahasan istilah berfikir logis (logical thinking) sering kali dipertukarkan dengan istilah bernalar logis (logical reasoning), karena keduanya memuat beberapa kegiatan yang serupa. Sesungguhnya, istilah berfikir logis mempunyai cakupan yang lebih luas dari bernalar logis. Capie dan Tobin (1980, dalam Sumarmo, 1987) mengukur kemampuan berfikir logis berdasarkan teori perkembangan mental dari Piaget melalui Test of Logical Thinking (TOLT) yang meliputi lima komponen yaitu: mengontrol variabel (controling variable),  penalaran proporsional (proportional reasoning)penalaran probabilistik (probalistics reasoning), penalaran korelasional (correlational reasoning), dan penalaran kombinatorik (combinatorial thinking).

Berdasarkan teori yang sama, Sheehan (Sumarmo, 1987) mengklasifikasi perkembangan mental anak melalui terjemahan tes Longeot. Tes ini  terdiri dari 26 butir tes yang meliputi komponen logik formal, kombinasi formal, dan proporsi formal. Dalam tes Longeot, sub tes logik formal atau penalaran proposisional disajikan dalam bentuk serangkaian pernyataan, diikuti dengan pilihan jawaban sebagai kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi. Selanjutnya penalaran berdasarkan aturan inferensi itu dinamakan penalaran logis.  Ditinjau dari cakupannya, proses penalaran logis merupakan bagian dari proses penalaran matematik, dan proses penalaran matematik merupakan bagian dari proses berfikir matematik.

Pengertian berpikir logis juga dikemukakan oleh beberapa pakar lainnya (Albrecht, 1984, Minderovic, 2001, Ioveureyes, 2008, Sonias, 2011, Strydom, 2000, Suryasumantri, 1996, dalam Aminah, 2011). Berpikir logis atau berpikir runtun didefinisikan sebagai: proses mencapai kesimpulan menggunakan penalaran secara konsisten (Albrecht, 1984),  berpikir sebab akibat (Strydom, 2000), berpikir menurut pola tertentu atau aturan inferensi logis atau prinsip-prisnsip logika untuk memperoleh kesimpulan (Suryasumantri, 1996, Minderovic, 2001, Sponias, 2011), dan berpikir yang meliputi induksi, deduksi, analisis, dan sintesis (Ioveureyes, 2008).

Keraf, (1982), Shurter and Pierce (Sumarmo, 1987) mendefinisikan istilah penalaran serupa dengan pengertian penalaran proposisional atau penalaran logis yaitu sebagai proses berfikir yang memuat kegiatan menarik kesimpulan  berdasarkan  data dan peristiwa yang ada. Sumarmo (2005) merinci indikator penalaran matematik sebagai berikut:
a) menarik kesimpulan analogi, generalisasi, dan menyusun konjektur,
b) menarik kesimpulan logis berdasarkan aturan inferensi, memeriksa validitas argumen, dan menyusun argumen yang valid,
c) menyusun pembuktian langsung, tak langsung, dan dengan induksi matematik.

Berpikir logis memuat kegiatan penalaran logis dan kegiatan matematika lainnya yaitu: pemahaman, koneksi, komunikasi, dan penyelesaian masalah secara logis. Analisis tersebut melukiskan bahwa berpikir logis memiliki cakupan yang lebih luas dari pada penalaran logis.